Encang,encing,nyak,babe,ponakan,misanan,semue,Assalamulaikum wr wb

Tulisan ane di blog ini emang nggak semua baru,tapi juga nggak basi,karena peristiwa sekarang kan pengulangan dari peristiwa
tempo dulu.Seneng,marah,sedih kan sama aja.
balyanurmd@yahoo.co.id

http://balyanurmd.wordpress.com

Selasa, 10 September 2013

DONGENG BANG KUMIS

Cerita santai : Balya Nur

Ill : ndableg.com
Mpok Zuleha bangga betul dengan kumis suaminya.Kumis itulah yang bikin dia lengket terus sejak pacaran dulu sampai sudah punya anak perjaka.Dia tidak bisa tidur sebelum mengelus elus kumis bang Somad Kumis,suaminya.

Malam ini Bang Somad Kumis nampaknya tidak bisa tidur.Mpok Zuleha,istrinya seperti biasa,rebahan di samping suaminya sambil mengelus-elus kumis suaminya.
Mata Bang Somad menatap langit-langit.” Bang Somad Klimis akan dipromosikan menjadi pengurus partai tingkat kecamatan,” kata Bang Somad Kumis kepada istrinya,tapi nada suaranya sepertinya dia bicara dengan dirinya sendiri.” Gue mau nyalonin jadi ketua partai tingkat kelurahan.Lu doain aje,gue sih yakin banget insya Allah berhasil.Siapa coba yang berhasil memenangkan Bang Foke di kelurahan ini.Kalau nggak ada gue mana bisa menang.Iya,kan?”
Bang Somad melirik istrinya.” Yaah..lu tidur.” Istrinya nampak pulas,tangannya masih menempel di kumis Bang Somad Kumis.

Di kampung di kelurahan itu ada dua Somad.Somad Klimis,ketua partai pengusung Foke tingkat kelurahan.Disebut Klimis karena dia tidak bekumis,untuk membedakan Bang Somad yang berkumis.
Bang Somad Kumis walaupun dia tidak memegang jabatan struktural di lembaga apapun,tapi dia cukup punya pengaruh kuat.Buktinya sewaktu Pilkada DKI putaran pertama,Bang Somad berhasil memenangkan Foke di kelurahannya.Sebagai pengusaha tambak ikan,Bang Somad Kumis tidak segan mengeluarkan uang buat memenangkan jagoan berkumisnya itu.

Tentu saja bukan uang yang dicari Bang Somad Kumis.Dia mengincar jabatan ketua partai tingkat kelurahan.Dia bercita-cita menjadi anggota DPR atau minimal DPRD.
Tapi Bang Somad Kumis belum berpengalaman di dunia politik tingkat desa sekalipun.Politik penuh intrik.Seorang yang berjasa belum tentu bisa otomatis menduduki jabatan struktural.Bagai disambar geledek di siang bolong ketika dia medapatkan kenyataan,yang menjadi pengurus parta tingkat kelurahan ternyata Bapak Hamdani,SH.

Karuan saja Bang Somad uing-uringan.Di kamarnya dia seperti layangan singit. Berputar tidak karuan.Mpok Zuleha yang sudah ngebet ingin memegang kumis suaminya,ikut uring-uringan.
“Bang,ngomelnya sambil tiduran,tangan aye sudah gatel nih.” Mpok Zuleha merajuk
“Diem,lu.Nggak tahu gue lagi puyeng tujuh keliling,lu masih mikirin ngelus kumis.Ikut prihatin dong..”
“ Bang Hamdani kan punya titel,abang kan cuma tamatan SMA,Sudah deh,kita bersyukur saja apa yang kita dapat sekarang.Ayo, tidur..”
“Enteng benget mulut lu ya? Titel nggak bisa menjamin kerjanya bagus.Sewaktu pilkada putaran pertama,apa kerjanya dia? Cuma ngomong sama manggut-manggut aja,gue yang berkeringat,dan nguras kantong.”

Singkat cerita,Bang Somad patah arang dengan partai yang sekarang dia menjadi aktifisnya.
Tim pemenangan Jokowi melihat peluang emas ini.Dia menadatangi Bang Somad Kumis.Dengan baju kotak-kotaknya mereka tersenyum ramah.

“Begini Bang..” kata juru bicara tim sukses Jokowi.”Pokoknya kalau Bang Somad Kumis berhasil menangin Jokowi di kampung ini,Abang pasti jadi ketua partai pengusung Jokowi, tingkat kelurahan .Dan emang itu sudah sepantasnya.Kita menghargai setiap keringat yang menetes.” Kembali tim sukes itu tersenyum ramah,senyum khas tim sukses.

“ Cuma, maf nih Bang.Ini maaf seribu maaf Bang.Supaya oaring-orang percaya sekarang Abang beralih ke Jokowi,ini maaf lho Bang.Saya usul,Abang mencukur kumis…” Juru bicara Tim sukses Jokowi menghentikan bicaranya,dia menungu reaksi Bang Somad kumis dengan tegang
“Setuju!” Bang Somad mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga nampak ototnya tegang.Tim sukes bernafas lega.Nampak pada wajah Bang Somad kumis ada rasa dendam yang tertahan.Juga ada keinginan kuat atas harapan ke masa depan yang terbuka lebar,menjadi anggota parlemen.”Tenang saja,saya yakin berhasil memenangkan Jokowi,saya kalau bekerja tidak tanggung-tanggung.Lihat saja nanti.”

Dan janji Bang Somad Kumis dibayar kontan.Dia bukan hanya mulai memakai baju kotak-kotak,tapi juga mencukur kumisnya! Tentu saja malapetaka bagi istrinya.
Mpok Zuleha seperti kemasukan setan gagu melihat wajah suaminya.Mulutnya menganga.Matanya melotot.Tangannya menunjuk ke wajah suaminya.Rojali,anak perjakanya juga ikutan bengong.Bang Somad yang sudah tidak berkumis lagi itu angkat bicara.
“Coba kalian mengerti,ini politik.Gue mau nujukin,titel nggak bisa menjamin orang sukses di kemasyarakatan.Lihat saja nanti,orang yang dulu milih Bang Kumis,sekarang gue bikin milih Jokowi semuanya.Gue cukur kumis sebagai tanda gue sudah putus hubungan dengan Bang Kumis.”
“Aye nggak perduli abang mau milih siapa.” Mpok Zuleha yang sudah pulih dari bengongnya mulai menimpali.”Tapi soal abang nyukur kumis itu berarti abang emang sudah pengen putus hubungan dengan aye,Bang..” Mpok Zuleha mulia mewek.
“Kumis ini habis pilkada juga tumbuh lagi.Ini cuma sebentar kok…Sabar saja..”
“Nggak.Sedetikpun aye nggak mau ngelihat muka abang kelimis gitu.Pulangin aye ke rumah orang tua aye,Bang…”

Bang Somad jadi keder tujuh keliling,pertengkaran itu tentu saja tidak menguntungkan bagi misi memenangkan jagonya yang orang Solo itu.Ditambah ancaman Rojali,anaknya yang mengancam akan golput jika babe dan enyaknya betengkar terus.
Ya, ini cuma dongeng.Dongeng politik.
Dongeng? Aku kok ragu ya….

29 Agustus 2012

Senin, 09 September 2013

Borong....Borong.....Bengong...Bengong....

 Cerita santai : Balya Nur

“Coba periksa lagi,Bang.Di celana yang digantung itu barangkali masih ada duit yang nyelip,”perintah Mpok Encun kepada suaminya.Bang
Topik,suaminya menurut saja.Walaupun Bang Topik guru silat,dan punya banyak murid di seantero kampung ,kalau sudah ngedepin bininya yang rada cerewet,Bang Topik cuma bisa ngeluarin jurus nurut.Bukan dia takut sama bininya,cuma pengeng saja dengerin bininya nyap nyap.
Bang Topik menjambret celana panjang yang tergantung di tambang.Merogoh dua kantongnya,mengibas-ngibaskannya dengan rada kesal,dan sekali lagi merogoh kantong dengan jengkel.

“ Ya udah deh kalau nggak ada,disuruh gitu aja marah.Sudah, cepetan ganti baju,entar keburu kesorean.Ke mana tuh anak-anak.Udah pada rapih,pasti main kotoran lagi.” Mpok Encun keluar kamar,teriak memanggil anak-anaknya,”Ojiiih…Imaaah…Ipaaah…Ojaaan….”

Keempat anaknya berhamburan menghampiri ibunya.Bang Topik yang sudah ganti baju,keluar kamar nyemperin istrinya.Mpok Encun memperhatikan Bang Topik dari atas sampai ke bawah.Lalu memberi penilaian, “Bang…pake pecinya dong biar kelihatan gantengan dikit..”
Bang Topik lagi-lagi ngambil jurus nurut.Dia masuk kamar,keluar lagi memakai peci yang sudah rada kuning kecokelatan.Mpok Encun memberi komentar lagi,”Aduuh..Bang..peci udah mateng pohon gitu masih aja dipelihara.Emang nggak ada peci lain? Makanya kalau punya duit jangan pake disayang-sayang.Sudah deh taruh lagi tuh peci. Kita beli di sana saja nanti.”

Menjelang lebaran kesibukan berputar tidak seperti biasanya. Agak cepat iramanya.Bukan cuma ada orang yang sembahyangnya setahun sekali,tapi juga ada yang beli pakaian setahun sekali.Makanya pengusaha pasar swalayan pas menjelang bulan puasa,banyak muncul pasar swalayan,sampai ke pelosok kampung.

Nah,di kampungnya Mpok Encun juga baru saja diresmikan pasar swalayan baru,mpok Encun menyebutnya,”toko betingkat.” Banyak orang-orang datang cuma mau melihat-lihat saja,atau sekedar mejeng.

Mpok Encun sampai di konter busana muslim,dia nyari peci buat Bang Topik.”Coba bang sedengin nih.” Mpok Encun menyodorkan peci kepada Bang Topik. Bang Topik dengan rada malas memakai peci itu. “ Nah, begitu kan gagah kelihatannya.Sudah deh pakai aja jangan dicopot.”
“Mau digebukin satpam lu,” kata Bang Topik sewot.
“Memangnya kita nyolong,apa?”
“Dicatet dulu,dibayar di kasir,baru boleh dipake..”
“O…begitu peraturannya..”
Akhirnya Bang Topik jadi repot kasih tahu cara-cara belanja di toko betingkat itu.sambil tidak lupa jangan belanja yang tidak penting,tapi mana bisa di tempat barang-barang yang bikin ngiler itu ngerem duit buat di belanjain.

Sesampai di rumah, pas bedug maghrib. Sambil berbuka puasa, mpok Encun mengingat-ingat sesuatu.”Keperluan apa lagi yang belon ya Bang?” tanyanya sambil nyocol kue putu mayang.
“Memangnya kenapa? Duit sudah habis?,”Tanya Bang Topik sambil masukin timun suri ke mulutnya.
“Ya,cukup buat beli ketupat,beli kembang,beli daging,sama kacang panjang.”
“Iya,habis lebaran kita bengong..”
“Kan nanti murid-murid abang lebaran pada dateng ngasih salam tempel.”
“Elu sih ngarepin yang nggak pasti.”
“Masih ada yang belon nih bang.Coba bantuin ingetin dong bang..” Mpok Encun garuk-garuk kepala nggak gatel.
“Sudah ah gue mau wudhu,solat maghrib lebih penting daripada mikirin belanjaan melulu.Jangan lupa sisain buat bayar zakat fitrah.” Bang Topik bangun menuju kamar mandi.
“ Ya Allah ! Iye Bang.Aduh..gimana nih..bang..” Mpok Encun menepak kepalanya sendiri.”Kalau bayar zakat,nggak ada buat beli ketupat..”
Selesai wudhu,Bang Topik nyamperin Mpok Encun.”Begini aja..duit yang buat beli ketupat,buat bayar zakat aja.Bayar zakat fitrah kan hukumnya wajib. Lebaran nggak makan ketupat kan nggak berdosa.Lagian nanti juga kita dapet kiriman ketupat dari tetangga.”
“ Ya malu dong bang.Pinjam duit ke mana kek bang…Aduh gimana nih..” Mpok Encun megangin jidatnya.
“Sudah deh gue mau sholat maghrib,elu juga cepetan ambil wudhu.Eh,ambilin peci gue di kamar.”
“Sudah ada peci yang baru,masih aja pake peci yang sudah kaya buah kesemek.”Walaupun sambil menggerutu,Mpok Encun ngambilin peci buat lakinya.

Bang Topik tidak langsung memakai peci itu.Dia ngeluarin duit seratus ribuan dan limapuluh ribuan dari selipan peci bututnya itu.Menyerahkan uang itu kepada Mpok Encun ”Nih,jangan lu buat beli yang bukan-bukan.Buat bayar zakat.Denger nggak lu? ”
 Nampak Mpok Encun masih penasaran.”Nah..abang ngumpetin duit di peci,sini aye periksa,siapa tahu masih ada lagi..” Mpok Encun menyambar peci butut itu,memeriksanya.Ternyata memang tidak ada sisa duit.

Sehabis lebaran,Mpok Encun bengong di jendela.Persediaan duit sudah habis sama sekali.”masi sih abang nggak pegang simpanan.Kemarin aye lihat murid abang, si Jaelani genggemin amplop.”
“Lha kan gue udah kasih sama lu?”
“ Iya itu kan yang aye lihat,yang aye nggak lihat? Masa sih cuma si Jaelani saja yang ngasih?”
“Makanya gue bilang dulu apa? Jangan mentang-mentang lebaran,apa saja mau dibeli.Sekarang? Bengong lu..”
Tiba-tiba Mpok Encun bangun seperti mainan yang baru diganti batereinya.”Bang,mana peci Abang yang kaya buah kesemek?,” tanyanya semangat.
“Gue sudah ceburin di empang Haji Kodir,” jawab Bang Topik sekenanya
“Mentang-mentang sudah nggak puasa,mau bohong ya? Perasaan aye lihat,dimana ya?” Mpok Encun mengingat-ingat sambil mijit-mijit keningnya.” Nah,iya.Waktu aye beresin tempat tidur,perasaan aye ngelihat tuh peci.Di bawah kasur ! Ya, di bawah kasur!”

Mpok Encun cepat masuk kamar.Rupanya di kalah gesit sama bang Topik yang sudah sampai di kamar duluan.Tangannya dimasukan ke bawah kasur,sambil menggerutu,“Dasar perempuan,kalau yang namanya duit, di lobang semut masih bisa dia endus.”
Bang Topik melempar beberapa lembar uang ke atas kasur.” Nih,jangan dihabis-habisin.Ingat,anak-anak kita sebentar lagi masuk sekolah.”
Mpok Encun mengambil uang itu,dia melihat masih ada duit di tangan Bang Topik.” Itu yang abang pegang duit buat apa?”
“ Besok gue mau ke rumah kong aji Asmawi.Masa gue dateng lenggang kangkung,harus genggemin lah…”
“Bener nih Bang nggak ada simpenan lagi?” Tanya Mpok Encun penasaran
“Kalau nggak percaya lu panggil KPK buat periksa gue,sewot gue lama-lama..”Bang topik Menggerutu sambil negloyor keluar kamar.Akhirnya Bang Topik bisa marah juga sama Mpok Encun.Tentu saja Mpok Encun melotot kaya orang kesurupan.Tapi begitu melihat duit di tangannya,melototnya hilang,berganti senyuman.**

Selasa, 06 Maret 2012

PANTUN BUNUH DIRI


+Slimpang sliwar
-Sekoteng pake es
+Siapa  diluar…
-Gue dateng mau protes

Kalau Sekoteng pake es
Makannya pake ikan bakar,ikannya ikan sepat
Kalau lu dateng kemari mau protes
Lu tunggu diluar,gue ada rapat

Jadi lu lagi ngebakar ikan sepat ?
Pantesan baunya sampe kesini
Kalo lu ada rapat
Biar gue tunggu disini

Empat ditambah lima jumlahnya Sembilan
Kalo lu nggak ngerti lu harus belajar
Gue rapat sampe sebulan
Kalo lu mau mati,nah lu tunggu dah diluar..

Gua nggak usah lagi lu ajarin
Itungan apa aja gua ngerti
Kalo suara rakyat lu nggak dengerin
Gua  emang udah siap mati.

Kalo lu makan nasi
Makannya jangan sambil lari
Lu mungkin terinspirasi
Oleh mahasiswa yang bakar diri

Makan nasi emang  enaknya duduk di  dipan
Tapi gue juga bisa makan sambil lari
Aktivis dan politisi bilang,kalau mau jadi pahlawan
Harus berani protes bunuh diri.

Gue punya ikan pepes,lu boleh ambil dibawah saji
Sambelnya didalam peti,bukanya  pake palu
Gua Cuma  Kades yang nggak  dapet gaji
Lu mati disini,duit darimana buat nguburin lu ?


 Makan Ikan pepes enaknya pake bakwan
Campur saos , ikan Tenggiri ditambah urapan
Kalo Pak Kades bisa undang wartawan
Supaya ngirit ongkos,gue bunuh diri di pekuburan.

Ambil batu di jembatan
Minta bantuin sama si Hasan
Kalo begitu gue nggak keberatan
Gue kasih lu julukan pahlawan kehangusan


Desember 2011


Rabu, 01 Februari 2012

ADUH…ADUH…BANG KODIR


 Cerita Santai: Balya Nur

Seharusnya keluarga Bang Kodir patut gembira. Bagaimana tidak? Anak perawan Bang Kodir satu-satunya yang bernama Mawarnih sebentar lagi mau dilamar oleh anak pengusaha bahan bangunan. Zakaria, namanya, sudah dua tahun pacaran sama anaknya Bang Kodir.

Mawarnih memang di kampung itu dikenal sebagai kembang dari segala kembang. Hidungnya mancung kaya ikan cucut. Kalau tersenyum pipinya legok kaya ditusuk jarum. Rambutnya ikal mayang kaya kue putu bulan puasa. Pendeknya, perjaka yang beruntung mendapat senyuman Mawarnih tidak bisa tidur  tiga belas malam.


Orang-rang bilang, Mawarnih nurunin ibunya. Ibunya bininya Bang Kodir, dulu juga termasuk kembang yang harumnya seantero kampung. Padahal Bang Kodir  termasuk perjaka biasa-biasa saja. Ya….namanya jodoh walaupun 86 perjaka yang ganteng-ganteng antri deketin ibunya Mawarnih, putus semua sama Bang Kodir. Dari beberapa sumber yang kurang dapat dipercaya, Bang Kodir pakai ilmu pelet.

Sekarang kita kembali ke pokok persoalan. Kenapa keluarga Bang Kodir blingsatan kaya kucing ketulangan? Mungkin pembaca menyangka Bang Kodir kekurangan uang. Wah, kalau perkara uang, Bang Kodir sudah siap. Uang tabungan yang ditabung di bubungan sudah sampai luber. Apa lagi anak perawannya yang dilamar, jadi lebih ringan. Habis apa dong?

Bermula dari pembicaraan empat mata antara Zakaria dengan ibunya Mawarnih. Saya kutip pembicaraan yang penting-penting saja.
“begini, bu,” kata Zakaria sambil meremas-remas jarinya
“Sebelum orang tua saya melamar, beliau akan mengutus tim pencari fakta. Ya…sekitar dua-tiga orang.”
“Apa? Tim pencari fakta? Memangnya keluarga saya bikin kerusuhan?” rupanya ibunya Mawanih getol mendengarkan dunia dalam berita.
“Jangan marah dulu, Bu. Orang tua saya memang rada-rada susah. Dia ingin tahu persis seperti apa sih calon mantu dan besannya.”
“Memangnya anak saya kenapa?”
“Bukan begitu, Bu. Soalnya orang tua saya dengar dari orang-orang……..” Zakaria agak ragu buat meneruskan kata-katanya.
“Zakaria, kalau bicara itu yang bener. Jangan kaya orang demam begitu.” Ibunya Mawanih tidak sabar melihat sikap calon mantunya.
“Begini. Jangan marah, ya Bu?”
“Kalau nak Zakaria terus-terusan begitu, Ibu bisa marah.”
“Maaf, Bu. Habis persoalan ini rasanya berat buat diucapkan. Tapi saya nekad deh. Begini, Bu. Orang-orang bilang,  Bang Kodir kalau buang air besar katanya di empang? Betul, Bu?”
Ibunya Mawanih tidak dapat menahan ketawanya.
“Eh, Zakaria. Bapaknya Mawanih memang kalau buang air besar di empang. Lalu apa hubungannya dengan lamaran?”
“Seperti saya bilang tadi, orang tua saya ini rada-rada susah. Sekarang ini kan sudah bukan jamannya lagi orang buang air besar di empang. Apalagi menurut orang-orang itu, dan saya sendiri juga tahu, di rumah ini kan ada WC-nya?”
“Memangnya selama ini nak Zakaria tidak tahu kalau Bapaknya Mawanih buang air besar di empang?”
“Ya saya tahu sih Bapak sering ke kempang. Tapi saya pikir paling-paling mau nge;ihat ikan guramenya. Lagian buat apa saya menyelidiki sampai di situ. Kurang sopan.”
“Jadi tim pencari fakta nanti akan menyelidiki Bapaknya Mawanih buang air besar?”
“begitulah, Bu. Ah, saya jadi malu”

Setelah berunding, akhirnya Ibunya Mawanih ambil keputusan. “Baiklah. Ibu akan coba-coba bilang sama Bang Kodir. Nanti Ibu cari saat yang tepat.”
          Memang, sejak Bang Kodir masih kecil dulu, dia selalu buang air besar di empang Bapaknya yang sekarang diwariskan buat dia. Waktu itu memang di rumahnya belum ada WC. Nah, setelah anaknya menuntut dibuatkan WC, kebiasaan bang Kodir tidak juga berubah. Pernah istrinya minta agar Bang Kodir mencoba buang air besar di WC, tapi Bang Kodir tidak bisa. “susah keluarnya,” katanya. Akhirnya istrinya memaklumi. Jarak antara rumah Bang Kodir dan empang miliknya kira-kira dua ratus meter.

Setelah ditemukan saat yang dianggap tepat oleh ibunya Mawanih, maka dia coba-coba bilang pada suaminya perihal permintaan calon mantunya. Setelah mendengar penuturan dari istrinya, Bang Kodir lompat dari tempat duduknya.
“Kurang ajar bener tuh anak. Tapi……apa bener dia bilang begitu? Jangan-jangan….elu nih yang ngarang-ngarang.”
“Ye….sumpah deh,bang.”
“Begini saja deh. Kalau nanti tim pencari fakta itu datang…..elu bilangin gue. Ude deh gue ‘nggak mau denger lagi tuh omongan. Enek perut gue dengernya.”
Singkat cerita, tim pencari fakta itu datang bersama Zakaria. Bang Kodir datang menyambut.
“Apa kabar nih?” Tanya Bang Kodir basa-basi.
“Baik-baik saja, Bang.” Jawab mereka serempak.
“Temannya Zakaria, ya?”
“Iya, Bang,”
“Ikut saya sebentar, yuk,” ajak Bang Kodir.
“Kemana, Bang?”
“Ayo, deh…..”

Zakaria dan ketiga orang itu ikut Bang Kodir. Di kepala mereka penuh dengan tanda tanya. Mau diajak kemana? Tibalah mereka di empang. Lalu bang Kodir masuk ke kakus yang terbuat dari bambu dan seng.
“Nah, katanya elu mau lihat gue buang air. Lihat deh situ biar puas,” kata Bang Kodir sambil jongkok.
Tentu saja keempat orang itu melongo. Tanpa dikomandoi lagi, keempatnya pergi satu-satu. Saking malunya, salah seorang dari mereka hampir jatuh ke empang.

Sejak itu hubugan dua calon besan itu menjadi panas. Orang tuanya Zakaria memutuskan untuk tidak jadi melamar Mawanih. Tentu saja yang menjadi korban sepasang calon pengantin itu. Mawanih tidak mau makan. Mogok makan istilahnya. Zakaria tidak mau keluar dari kamarnya.
Supaya cerita ini tidak berlarut-larut, dan kalau diceritakan pertentangan kedua calon besan itu rasanya tidak cukup untuk halaman yang terbatas ini. Lagipula menceritakan pertentangan bukan mustahil akan menimbulkan pro dan kontra. Dan itu tidak baik buat stabilitas kampung.
Jadi kita ambil gampangnya saja, seperti akhir cerita film nasional. Orang tua Zakaria sadar atas kekeliruannya mencampuri urusan – maaf – pantat orang lain. Bang Kodir juga sudah mulai latihan buang air di WC. Atas ketekunannya latihan, akhirnya dia berhasil. Sekarang sudah bisa buang air besar di WC dalam rumahnya. Jadi deh Zakaria dan Mawanih digambrengin. Tamat deh. Siiip kan?

Dimuat di Tabloid IDOLA,13 Mei 1991