Encang,encing,nyak,babe,ponakan,misanan,semue,Assalamulaikum wr wb

Tulisan ane di blog ini emang nggak semua baru,tapi juga nggak basi,karena peristiwa sekarang kan pengulangan dari peristiwa
tempo dulu.Seneng,marah,sedih kan sama aja.
balyanurmd@yahoo.co.id

http://balyanurmd.wordpress.com

Sabtu, 07 Januari 2012

.MULAILAH CANANGKAN GERAKAN INTELEKTUAL KAUM BETAWI…. (Catatan Menuju Kedaulatan Etnik Betawi di Kampungnya Sendiri)





Jika kita tengok kebelakang, bahkan sejak Xabandar Kalapa, Wak Item berhubungan dengan banyak bangsa, jelas sekali intelektualitas orang Betawi. Betapa tidak ? Wak Item selalu Xabandar Kalapa memnguasai banyak bahasa sehingga bisa melakukan hubungan dagang dan pengaturan bandar Kalapa dengan orang-orang asing dari berbagai negara.

M.Thahir, ketua Boedi Oetomo cabang Weltenvreden hingga Moehammad Hoesni Thamrin pendiri Perkumpulan Kaoem Betawi yang ikut dalam sumpah Pemuda dan menjadi anggota Volksraad, adalah contoh berikutnya. Kemudian muncul tokoh-tokoh yang tidak saja intelek tapi selalu konsisten dalam perjuangan terhadap kebenaran.

Banyak pula di tanah Betawi pemikir-pemikiri yang kemudian menuliskan karya-karyanya, seperti misalnya penulis Betawi pasca merdeka yang diketahui antara lain M.Fauzzi (dg 2 z) yang banyak menulis di Pantja Warna. Awal 50’an Ramelan atan Ran. Dia menulis di Pedoman. Tenga 50’an ada SM Ardan, Lukman Karmani, Firman Muntaco, Machbub Djunaidi, Tuty Alawiyah. Awal 60’an ada Kamal Hamzah, Siti Aminah Azis dan banyak lagi. Penulis-penulis Betawi angkatan 60’an umumnya dibesarkan oleh rubric Kuntjup Harapan Koran Berita Minggu. Pada tahun 1935-1942, banyak juga penulis Betawi yang gunakan nama samaran.

Salah seorang yang patut kita ingat adalah Machbub Djunaidi. Machbub merasa dibesarkan di sekolah SMP en SMA. Ia lalu masuk HMI sampai duduk di PB. Ia lalu mendirikan PMII dan jadi ketua. Machbub jadi anggota DPRGR umur 27 karena prestasinya. Ia diusulkan NU dan diangkat Bung Karno. Ia anak Betawi pertama yang berada di pentas kenegaraan Nasional setelah RI merdeka (1961). Kemudian ada lagi dr.Aziz Saleh (Menkes 1963). Keduanya diangkat karena kapasitas pribadinya. Bahkan banyak yang gak tau kalau Aziz Saleh Betawi, ia banyak berkiprah di Pramuka.

Belakangan ini kita hanya melihat banyaknya kumpulan Betawi yang kita tidak tahu arah tujuannya. Hingga saat ini terlihat bahwa Betawi hanya dilekatkan pada bendera-bendera kumpulan tersebut. Karya nyata yang dapat dibanggakan tidak terlihat, Saya hanya melihat Ridwan Saidi lah yang paling konsisten mengawal Betawi dengan karya-karya (walau sering dianggap kontroversial). Seperti halnya Machbub Djunaidi yang saya anggap dikenal secara internasional, Ridwan Saidi terlihat anti kumpulan Betawi. Walau begitu Machbub berharap Ridwan Said bisa bertahan berada dalam dunia Betawi, karena beliau merasa tida akan bisa.

Dalam satu kesempatan Ridwan Saidi bilang pada saya bahwa hampir dibanyak tempat perkumpulan etnik alami kemerosotan intelektual karena intervesnsi politik. Era Belanda politik kita sama-sama : ANTI KOLONIAL, maka gerakan kebangsaan motornya dulu kumpulan etnik, termasuk Perkumpulan Kaum Betawi. Dari buku Riwayat Sawah Besar, saya tampilkan fakta betapa inteleknya Kaum Betawi, demikian ditambah kan Ridwan Saidi. Zaman sudah berubah. Politik (berparte) telah jadi cara tunggal untuk mobilitas vertical, maka intelektualitas sama sekali tak diperlukan, Ridwan Saidi menambahkan pendapatnya tentang kaum Betawi hari ini.

Akhirnya saya kutip pendapat Ridwan Saidi tentang kiprahnya di Betawi. Menurut beliau concern dengan Betawi tetap pilihannya. Betawi tidak identik dengan perkumpulan. Kepentingan en persoalan masing-masing juga tak selalu sama. Ini dialami oleh yang lain-lain. Formula Kaum Betawi yang amat jitu : mencerdaskan orang-orang Betawi. Mereka bikin perpustakaan di Pejambon dan AsamReges. Bikin majalah, debating club, bikin asrama pelajar. Mereka buka les musik. Perkumpulan Kaum Betawi gak ada duanya. Untuk diketahui, di Fadli Zon Library ada data nya, seorang putra Betawi pada tahun 1927 ada yang jadi Meester in de Rechten jaman Rechtshoegeschool berafiliasi dengan Leiden.

Saat saya membuat tulisan ini, saya ingat beberapa Pesan Pendek dari Dato Ridwan Saidi, yang antara lain :
Aki Tirem bikin krajan karena intelektualiasnya idem Ki Agas Kintal di krajan Judea Karti, Batu Jaya, idem Buyut Nyai Dawit yang diaku Pager Resi idem Wa Item yang diangkat Xabandar & penerjemah idem Bapa Slamat yang diangkat Patih pemerintahan Deandels idem M.Tahir yang terpilih Ketua Boedi Oetomo Wltevreden. Semua krn intelektualitas. To’ak (intelektualitas) bicara. Diluar to’ak cari urusan. Anak2 Betawi misti dahulukan to’ak dari yg laen.
(RS : 20/06/2010 : 11.59.04)

Tradisi to’ak di Betawi cukup berakar. Jadi penterjemah di Plabuhan Kalapa harus bicara 36 bahasa. Itu syarat dari Pakuan. Wa Item kaya bukan karena Xabandar tp krn jago bahasa. Saat Kalapa dibakar, puluhan penterjema dibunu. Karena itu ditangan Tagaril (Palatehan) plabuhan sepi. Penerjemah di alap abis. Akhirnya Jayakerta berjualan kavling2 ke Inggris en Belanda. Mereka mang bokis prang, tapi gara da e to’ak. Akhirnye caur digebukin Blendong. Zonder to’ak te ente bais. (RS : 2/06/2010 : 12.34.53)

Blande kate,orang kudu ada nieuwesgierig, rasa ingin tau. Ini dorong hasrat membaca. Guru saya Subchan ZE bilang di fakultas apapun kuliah kita belajar method denken (metode berfikir). Kuasai method denken dan banyak baca te e roang bakal maju en terpandang. Baca apa saja sesuai minat. Internet cuma kasi pngetahuan instan. Jangan takut hiroglip en Ibrani bahkan Aramaic, karena itu bisa diplajari. Kalo te e cinte ilmu, ilmu bakal cinte te e. (RS : 20/062010 : 12.34.53)

A.Toynbee , peradaban manusia bermula ktika mreka lompat dari puun en mulain mendirikan rumah diatas bumi. Menurut arkeolog itu bermula di Turki Chatal Khuyuk pd 9000 SM. Pd 6000 SM peradaban rumah merambah Jordan di Ain Ghazal. Dari rumah2 terjadi himpunan yang disebut kota. Kota yang pertama berdiri di zaman itu juga di Jordan en bernama JAVA (Jawa). Kota itu teruruk. Pada 1986 mulai diekskavasi. Java bahasa kuno (Akkadia) yang masih digunakan hingga 3000 SM oleh orang2 Assyria di Mesopotamia. Bahasa ini untuk sebahagiannya diserap Hebrew. Java=good looking. Nama pulau yang kita diami sekarang mengacu pada nama tsb. Nama ini pemberian kelana Asia Barat, sudah kesini 2500 SM. Pergerakan sejarah mengarah pada kebesaran Indon. Reinassance !! bangsa besar tak bole dipimpin Presiden yang katai ilmu en charisma. (RS : 20/06/2010 : 14.09.23)

Kata Marcopolo, Cina ambisi jajah Jawa. Utusan Cina ke Singasari 2x datang temui Kartanegara akhir XIII M,minta takluk. Pertama ditolak, ke 2 ditolak bari muka tu Cina dicontreng pake kris (bukan iris kuping). Raja Cina dinasti Mongol marah, kirim 100.000 tentara pimpinan SHI PI. Kertanegara ude wapat digantiin ame Jayakatwang. Cina manpaatin saingan Jayakatwang : R.Wijaya. R.Wijaya disuru serbu Jayakatwang. JK kalah tapi Cina yang cape dihajar R.Wijaya. 1/3 Cina mati. Raja Cina ganti siasat : subversi. Dari th 1422 Cheng Ho 9x ke Majapahit ngintel. Jaringan intel dibentuk pimpinan Cina2 Mualaf : Bonang, Giri en Kudus. Gajahmada termakan intrik perangi Padjadjaran di Bubat. Laksamana Nala marah ke Gajahmada. Bersama 1400 armada laut tinggalkan Majapahit. Majapahit melemah en letoy saat Gajahmada wafat 1478. Trus Hayam Wuruk idem. Majapahit ambruk. Trus Kalapa 1526/1527 en Pajajaran 1579. Koalisi Cina –Gujarat ancurkan Jawa aja. Mrk ga bisa membangun. 1619 Eropa joget/HUT DKI nih yee….(RS :20/06/2010 : 09.35.44)

Nusantara jaya dijaman krajan2 lokal dari 2500 SM – IV M datang begundal asing Tarumanegara (Hindu) IV M dan Sriwijaya (Budha) V M hancurkan krajan2 lokal di Sumatera, Jawa, Kalimantan. Kediri yang bertahan di Jawa Timur en Sunda di Jabar. Ke2 krajan local ini kelak metamorphosis dalam Pajajaran dan Majapahit. Nusantara jaya lagi pada XIII M stlah ambruk 8 abad dirusak asing(India utara). Tp 2 abad aja. Lalu datang lagi Cina & India (Gujarat) hancurkan Pajajaran dn Majapahit dengan tehnik subversi. Tapi Cina en Gujarat Cuma mampu bikin kerajaan ecek-ecek : Demak, Cirebon en bawahan2nya yang cuma berumur 1 abad. En Eropa (dan Nippon) 3 abad lebih => merdeka !! Tau-tau eropa datang lagi dan USA via IMF en World Bank. Eropa mo ancur. Setelah lima abad kita harus bangkit lagi dengan kekuatan sendiri .. hayooo…… !! (RS : 20/06/2010 : 09.36.57)… edisi revisi 28 Juni 2011.

Jika kita lihat kumpulan Betawi sekarang, tak ada yang berorientasi pada pencerdasan Kaum Betawi, bahkan cenderung tak perdulikan gerakan intelektual kalao tak mau disebut anti intelektual. Lantas kapan bisa kita mulai, kita ulangi kejayaan masa lalu ketika kaum intelektual Betawi banyak berbuat dalam membangun negeri ini ? (Jkt,Juni 2011, diperenungkan untuk ditulis ulang pada 02 Januari 2012/mathar moehammad-rs/forum kajian budaya betawi)


FB LEMBAGA KEBUDAYAAN BETAWI

SEJARAH BETAWI

Suku Betawi
berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa pada masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Bali, Bugis, Makassar, Ambon, dan Melayu serta suku-suku pendatang, seperti Arab, India, Tionghoa, dan Eropa.

Istilah Betawi

Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni Jakarta dan bahasa Melayu Kreol yang digunakannya, dan juga kebudayaan Melayunya. Kata Betawi berasal dari kata "Batavia," yaitu nama lama Jakarta pada masa Hindia Belanda.





Sejarah

Diawali oleh orang Sunda (mayoritas), sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta kemudian Pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.

Selain itu, perjanjian antara Surawisesa (raja Kerajaan Sunda) dengan bangsa Portugis pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir musik keroncong.

Setelah VOC menjadikan Batavia sebagai pusat kegiatan niaganya, Belanda memerlukan banyak tenaga kerja untuk membuka lahan pertanian dan membangun roda perekonomian kota ini. Ketika itu VOC banyak membeli budak dari penguasa Bali, karena saat itu di Bali masih berlangsung praktik perbudakan.[1] Itulah penyebab masih tersisanya kosa kata dan tata bahasa Bali dalam bahasa Betawi kini. Kemajuan perdagangan Batavia menarik berbagai suku bangsa dari penjuru Nusantara hingga Tiongkok, Arab dan India untuk bekerja di kota ini. Pengaruh suku bangsa pendatang asing tampak jelas dalam busana pengantin Betawi yang banyak dipengaruhi unsur Arab dan Tiongkok. Berbagai nama tempat di Jakarta juga menyisakan petunjuk sejarah mengenai datangnya berbagai suku bangsa ke Batavia; Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Ambon, Kampung Jawa, Kampung Makassar dan Kampung Bugis. Rumah Bugis di bagian utara Jl. Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota.

Antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA memperkirakan, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Castle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi. Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moor, orang Bali, Jawa, Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu. Kemungkinan kesemua suku bangsa Nusantara dan Arab Moor ini dikategorikan ke dalam kesatuan penduduk pribumi (Belanda: inlander) di Batavia yang kemudian terserap ke dalam kelompok etnis Betawi.

Suku Betawi

Pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.
Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.
Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.
Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.

Setelah kemerdekaan

Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi — dalam arti apapun juga — tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, 'suku' Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara.

 Seni dan kebudayaan

Budaya Betawi merupakan budaya mestizo, atau sebuah campuran budaya dari beragam etnis. Sejak zaman Hindia Belanda, Batavia (kini Jakarta) merupakan ibu kota Hindia Belanda yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, budaya Betawi juga banyak menyerap dari budaya luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugis.
Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari Indonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan.

 Bahasa

Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.

Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Batavia juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda, sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.

Karena perbedaan bahasa yang digunakan tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan etnis Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi (kata turunan dari Batavia). Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik[2] yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.

Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi. Dialek Betawi sendiri terbagi atas dua jenis, yaitu dialek Betawi tengah dan dialek Betawi pinggir. Dialek Betawi tengah umumnya berbunyi "é" sedangkan dialek Betawi pinggir adalah "a". Dialek Betawi pusat atau tengah seringkali dianggap sebagai dialek Betawi sejati, karena berasal dari tempat bermulanya kota Jakarta, yakni daerah perkampungan Betawi di sekitar Jakarta Kota, Sawah Besar, Tugu, Cilincing, Kemayoran, Senen, Kramat, hingga batas paling selatan di Meester (Jatinegara). Dialek Betawi pinggiran mulai dari Jatinegara ke Selatan, Condet, Jagakarsa, Depok, Rawa Belong, Ciputat hingga ke pinggir selatan hingga Jawa Barat. Contoh penutur dialek Betawi tengah adalah Benyamin S., Ida Royani dan Aminah Cendrakasih, karena mereka memang berasal dari daerah Kemayoran dan Kramat Sentiong. Sedangkan contoh penutur dialek Betawi pinggiran adalah Mandra dan Pak Tile. Contoh paling jelas adalah saat mereka mengucapkan kenape/kenapa'' (mengapa). Dialek Betawi tengah jelas menyebutkan "é", sedangkan Betawi pinggir bernada "a" keras mati seperti "ain" mati dalam cara baca mengaji Al Quran.

 Musik

Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab, dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, Rebana Tanjidor dan Keroncong.

 Tari

Seni tari di Jakarta merupakan perpaduan antara unsur-unsur budaya masyarakat yang ada di dalamnya. Contohnya tari Topeng Betawi, Yapong yang dipengaruhi tari Jaipong Sunda, Cokek dan lain-lain. Pada awalnya, seni tari di Jakarta memiliki pengaruh Sunda dan Tiongkok, seperti tari Yapong dengan kostum penari khas pemain Opera Beijing. Namun Jakarta dapat dinamakan daerah yang paling dinamis. Selain seni tari lama juga muncul seni tari dengan gaya dan koreografi yang dinamis.

Drama

Drama tradisional Betawi antara lain Lenong dan Tonil. Pementasan lakon tradisional ini biasanya menggambarkan kehidupan sehari-hari rakyat Betawi, dengan diselingi lagu, pantun, lawak, dan lelucon jenaka. Kadang-kadang pemeran lenong dapat berinteraksi langsung dengan penonton.

Cerita rakyat

Cerita rakyat yang berkembang di Jakarta selain cerita rakyat yang sudah dikenal seperti Si Pitung, juga dikenal cerita rakyat lain seperti serial Jagoan Tulen atau si jampang yang mengisahkan jawara-jawara Betawi baik dalam perjuangan maupun kehidupannya yang dikenal "keras". Selain mengisahkan jawara atau pendekar dunia persilatan, juga dikenal cerita Nyai Dasima yang menggambarkan kehidupan zaman kolonial. creita lainnya ialah Mirah dari Marunda, Murtado Macan Kemayoran, Juragan Boing dan yang lainnya.

Senjata tradisional

Senjata khas Jakarta adalah bendo atau golok yang bersarungkan terbuat dari kayu.

Kepercayaan

Sebagian besar Orang Betawi menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katolik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.

 Profesi

Di Jakarta, orang Betawi sebelum era pembangunan orde baru, terbagi atas beberapa profesi menurut lingkup wilayah (kampung) mereka masing-masing. Semisal di kampung Kemanggisan dan sekitaran Rawabelong banyak dijumpai para petani kembang (anggrek, kemboja jepang, dan lain-lain). Dan secara umum banyak menjadi guru, pengajar, dan pendidik semisal K.H. Djunaedi, K.H. Suit, dll. Profesi pedagang, pembatik juga banyak dilakoni oleh kaum betawi. Petani dan pekebun juga umum dilakoni oleh warga Kemanggisan.

Kampung yang sekarang lebih dikenal dengan Kuningan adalah tempat para peternak sapi perah. Kampung Kemandoran di mana tanah tidak sesubur Kemanggisan. Mandor, bek, jagoan silat banyak di jumpai disana semisal Ji'ih teman seperjuangan Pitung dari Rawabelong. Di kampung Paseban banyak warga adalah kaum pekerja kantoran sejak zaman Belanda dulu, meski kemampuan pencak silat mereka juga tidak diragukan. Guru, pengajar, ustadz, dan profesi pedagang eceran juga kerap dilakoni.

Warga Tebet aslinya adalah orang-orang Betawi gusuran Senayan, karena saat itu Ganefonya Bung Karno menyebabkan warga Betawi eksodus ke Tebet dan sekitarnya untuk "terpaksa" memuluskan pembuatan kompleks olahraga Gelora Bung Karno yang kita kenal sekarang ini. Karena asal-muasal bentukan etnis mereka adalah multikultur (orang Nusantara, Tionghoa, India, Arab, Belanda, Portugis, dan lain-lain), profesi masing-masing kaum disesuaikan pada cara pandang bentukan etnis dan bauran etnis dasar masing-masing.

 Perilaku dan sifat

Asumsi kebanyakan orang tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam segi ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang berhasil. Beberapa dari mereka adalah Muhammad Husni Thamrin, Benyamin Sueb, dan Fauzi Bowo yang menjadi Gubernur Jakarta saat ini .

Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta.
Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat Betawi masa kini agak terpinggirkan oleh modernisasi di lahan lahirnya sendiri (baca : Jakarta). Namun tetap ada optimisme dari masyarakat Betawi generasi mendatang yang justru akan menopang modernisasi tersebut.

 Tokoh Betawi

Catatan kaki

  1. ^ Ensiklopedi Jakarta: Cornelis Chastelein
  2. ^ Three Old Sundanese Poems. KITLV Press. 2 Januari 2007.

Referensi

  1. Castles, Lance The Ethnic Profile of Jakarta, Indonesia vol.I, Ithaca: Cornell University April 1967
  2. Guinness, Patrick The attitudes and values of Betawi Fringe Dwellers in Djakarta, Berita Antropologi 8 (September), 1972, pp. 78–159
  3. Knoerr, Jacqueline Im Spannungsfeld von Traditionalität und Modernität: Die Orang Betawi und Betawi-ness in Jakarta, Zeitschrift für Ethnologie 128 (2), 2002, pp. 203–221
  4. Knoerr, Jacqueline Kreolität und postkoloniale Gesellschaft. Integration und Differenzierung in Jakarta, Frankfurt & New York: Campus Verlag, 2007
  5. Saidi, Ridwan. Profil Orang Betawi: Asal Muasal, Kebudayaan, dan Adat Istiadatnya
  6. Shahab, Yasmine (ed.), Betawi dalam Perspektif Kontemporer: Perkembangan, Potensi, dan Tantangannya, Jakarta: LKB, 1997
  7. Wijaya, Hussein (ed.), Seni Budaya Betawi. Pralokarya Penggalian Dan Pengem¬bangannya, Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya, 1976
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Betawi

Jumat, 06 Januari 2012

PERANG LAGU



 Cerita Santai : Balya Nur       

IBU Leha dan Ibu Napisah sama-sama punya hobi menyanyi. Keduanya sama cantik, sama cepat tersinggung, sama galaknya. Mungkin karena banyak persamaan itulah barangkali yang menyebabkan keduanya saling bersaing. Jika misalnya anak Ibu Leha beli mobil-mobilan, maka besoknya anak Ibu Napisah dibelikan kapal-kapalan. Jika ibu Leha mnyetel lagu dangdut keras-keras, maka Ibu Napisah menyetel lagu keroncong lebih keras lagi. Kalau Ibu Leha menyetel lagu pop, maka Ibu Napisah menyetel lagu Rock. Begitu seterusnya.
         
perang lagu jpg.ill D&R
Keduanya juga kebe
tulan hampir berba
rengan,  hanya selisih dua hari menempati rumah kontrakan berbentuk ‘kopel’ itu.Keduanya tinggal bersebelahan. Berhubung dinding rumah itu terbuat dari triplek, keduanya bisa saling nguping.
          Untungnya keduanya mempunyai suami yang sama-sama sabar. Pak Zakir , suami Ibu Leha dan Pak Jamil suami Ibu Napisah tanpa diketahui oleh istrinya masing-masing telah mengadakan perundingan rahasia. Keduanya sepakat, apapun yang diadukan oleh istrinya masing-masing, jangan dimasukan kedalam hati. Biarlah itu urusan orang perempuan. Sebab jika suami sudah ikut campur, keadaan akan bertambah gawat.

          Memang sih selama ini kedua ibu itu belum pernah “kontak senjata” langsung. Keduanya masih dalam tahap saling sindir. Dan ini yang menarik sindiran itu di ekspresikan melalui nyanyian atau pantun. Biasanya adu sindir itu berlangsung saat keduanya sedang mencuci atau memasak.
          Ibu Leha yang semalam mendengar Ibu Napisah bertengkar dengan suaminya, sambil memotong kangkung menirukan penggalan lagu Betharia Sonata, “Pulangkan saja aku pada ibuku atau Ayahku…”
          Ibu Napisah yang tadi sewaktu belanja diwarung melihat Ibu leha membeli kangkung dan tempe, menirukan penggalan lagu Bimbo yang syairnya dirubah menjadi “Ada suami bertanya pada istrinya, masak apakah engkau hari ini? Hari ini  kita masak tempe dan kangkung, hari ini kita masak tempe dan kangkung.”
          Ibu Leha tak mau kalah, Dia menirukan lagu dangdut Imam S Arifin  yang syair aslinya berbunyi, ‘Didalam tubuhmu ada segumpal darah. Itu rahasia kehidupan…’ Dirubahnya menjadi, ‘Didalam dapurmu ada segumpal daging. Itu rahasia orang berutang…”
          Merah muka Ibu Napisah. Sebenarnya di warung tadi dia bermaksud akan membeli tempe dan kangkung. Maklum sedang tanggung bulan. Tapi ketika dia melihat Ibu Leha membeli tempe dan kangkung, dia urungkan niatnya. Diganti dengan daging. Perkara uangnya tidak cukup, Ibu Napisah beralasan, “Bu, ini daging saya bawa dulu, ya? Entar kalau suami saya pulang, saya bayar. Hari ini suami saya dapat obyekan kecil-kecilan. Tapi cukuplah buatlah beli baju baru untuk saya dan anak-anak. Ya…. Namanya rezeki.” Walaupun ucapan itu ditujukan untuk ibu warung, tapi nadanya menyindir Ibu Leha.
          “Biarin saja utang, yang penting kan dibayar. Aduh, saya tidak sabar menunggu suami pulang. Entar sore dia mengajak ke Pekan Raya Jakarta.” Ibu Napisah Mengucapkan dengan suara  keras.
          Ibu Leha tidak mau kalah. Dengan suara lebih keras lagi dia bilang, “Biar makan tempe dan kangkung, yang penting nggak banyak pikiran. Dari pada makan daging tapi mikirin utang!”
“Sudah, deh. Lagi sakit gigi teriak-teriak. Entar tambah bengkak tuh gigi!” balas Ibu Napisah.
“Biar saja, gigi sendiri ini. Mau bengkak kek. Yang penting asyik!” Ibu Leha menirukan lagu Bento-nya Iwan Fals.
“Ahh… daripada dengerin orang sakit gigi, mendingan dengerin lagu.” Lalu Ibu Napisah menyetel lagu dangdut. Lagu ‘sakit giginya’ Meggy Z.
          Memang sudah satu minggu ini Ibu Leha sakit gigi. Tapi walau betapapun sakitnya, kalau sudah mendengar ocehan ibu Napisah, dia bisa melupakan sakit giginya. Walaupun untuk itu resikonya adalah giginya bertambah sakit setelah adu sindir selesai. Saat mendengar lagu Meggy Z, itu sebenarnya giginya mulai terasa berdenyut-denyut. Tapi dia tidak perduli. Sambil memegang pipinya dia menyetel lagu jaipongan.
          Malam harinya Ibu Leha nguping. Siapa tahu Ibu Napisah tidak jadi pergi ke Pekan Raya Jakarta. Dan benar saja. Jelas sekali mendengar pertengkaran kecil itu, Suami Ibu Napisah membatalkan rencana ke PRJ, obyekannya belum bisa dicairkan. Setelah Ibu Leha mendengar pertengkaran selesai, dia menyayikan lagu ‘Patah Hatinya’ Rachmat Kartolo yang syairnya dirubah menjadi, “Sakit hatiku jadinya. Tidak jadi ke Pekan Raya Jakarta…?”
          Ibu Napisah membalas dengan lagu ‘Sakit giginya’ Meggy Z yang syairnya dibalik menjadi “Lebih baik sakit hati, daripada sakit gigi ini. Biar tak mengapa…”
Sambil memegangi gusinya yang mulai berdenyut-denyut, Ibu Leha menirukan lagu ‘Semut-semut Kecil’. “Semut-semut kecil. Aku mau Tanya. Sedang apakah engkau didalam kamar itu?”
Ibu Napisah menimpalinya, “Eoe… oe… sedang makan daging.”
Ibu Leha tidak mau kalah. “Semut-semut kecil. Aku mau Tanya. Apakah utang sudah dibayar diwarung sana?”
Ibu Napisah menirukan lagu ‘Lenggang Kangkung’. “Lenggan-lenggang kangkung. Kangkung sama tempe. Kalau pikiran bingung, kita makan sama tempe.”
          Kalau sudah begitu, suami Ibu Napisah dan suami Ibu Leha tidak bisa berbuat apa-apa. Dulu pernah keduanya melarang istrinya main sindir-sindiran, tapi bukan berhenti malah semakin menjadi-jadi. Daripada kuping ikut panas, kedua suami itu sepakat keluar rumah, bermain catur dirumah pak Rosib yang terletak paling ujung. Biasanya sepulang main catur, istri sudah tidur pulas.
          Seperti juga malam itu. Keduanya bermain catur dirumah pak Rosib. Malam itu keduanya mendapat kabar baik. Pak Rosib seminggu lagi akan pindah. Suami Ibu Napisah bermaksud akan menempati petak yang sekarang ditempati Pak Rosib. Rumah petakan itu terdiri dari enam petak rumah. Berarti antara rumah petak yang ditempati Pak Rosib sekarang dengan rumah petak yang ditempati Ibu Leha dibatasi oleh empat petak rumah.
          Sembilan hari kemudian, resmilah Ibu Napisah menempati rumah petak yang dulu ditempati Pak Rosib. Sejak saat itu, rumah petakan itu menjadi sepi. Untung ada pak Rosib. Coba kalau Pak Rosib tidak pindah, tentu cerita ini lama sekali selesainya.


Juni 1991,diperbaharui Januari 2012
Pernah dimuat di majalah D&R edisi Juli 1991