Encang,encing,nyak,babe,ponakan,misanan,semue,Assalamulaikum wr wb

Tulisan ane di blog ini emang nggak semua baru,tapi juga nggak basi,karena peristiwa sekarang kan pengulangan dari peristiwa
tempo dulu.Seneng,marah,sedih kan sama aja.
balyanurmd@yahoo.co.id

http://balyanurmd.wordpress.com

Selasa, 10 September 2013

Segepok Opini Balyanur buat Jokowi



Bang Owi
Illustrasi: Tubagus Arif Z
Kalau Shakespeare bilang,” Apalah artinya sebuah nama? ” bukan berarti nama tidak penting. Kalimat yang terdapat dalam karya monumentalnya “Rome and Juliet” itu lengkapnya kira-kira berbunyi, “ Apalah artinya sebuah nama? Jika mawar harum baunya, maka nama apapun yang diberikan pada mawar itu tidak akan merubah keharumannya.”
Nah, jelas bukan soal nama, tapi sebutan. Namanya sudah jelas,Mawar atau Rose, nama yang cukup indah. Kepribadian Mawar yang harum dan indah dipandang itu cukup membuatnya percaya diri untuk disebut apa saja.

Begitulah Joko Widodo. Semasih menjadi Walikota Solo, nama populernya Jokowi. Biasanya yang punya nama singkatan itu pasti orang sangat terkenal. Misalnya, SBY,JK,UJ,Jupe, dan banyak lagi yang lainnya. Dan sebutan itu bukan rekayasa dari dirinya, tapi pengakuan masyarakat. Makanya saking populernya, Gubernur Jateng sampai rada keki juga sama Jokowi ketika Jokowi memperkanlkan mobil Asemka yang melejitkan namanya itu. Mungkin karena gubernurnya kalah populer.

Menjadi Gubernur DKI nama itu semakin populer. Kalau Gubernur DKI sebelumnya mempunyai panggilan khusus,”Bang,” Maka nampaknya Jokowi tetap merasa pede dengan nama yang membawa “hoki” itu. Nama sebutan Gubernur sebelumnya, Bang Ali ( Ali Sadikin) Bang Noli (Tjokropranolo) Bang Wi ( Wiyogo ) Bang Yos ( Sutiyoso ) Bang Foke ( Fauzi Bowo) tentu saja bukan niat ingin mengambil hati suku Betawi, tapi lebih sebagai penghormatan kepada suku Betawi. Paling tidak, untuk memperkenalkan, bahwa di Jakarta ada penduduk asli yang bernama Betawi.
Sepanjang masalah Betawi di Jakarta, wacananya selalu normatif: Penduduk Jakarta kan bukan hanya suku Betawi. Jakarta sebagai Indonesia kecil yang tediri dai berbagai suku. Dan semacamnya. Jadi boleh dibilang, Gubernur DKI adalah Gubernur Indonesia.
Untungnya orang Betawi nggak mengenal feodalisme, karena memang dari dulu orang Betawi nggak mengenal raja. Ada juga raja lenong. Orang dari mana pun yang memimpiin Jakarta, orang Betawi nggak terlalu perduli, yang penting bisa membawa Jakarta lebih baik.
Jika suatu saat Jokowi ingin mengedepankan identitas ke “Jakartaannya” saya usulkan sebutan untuk Jokowi yang pas adalah: Bang Owi.

8 Nopember 2012

Satu Lagi dari Jokowi
Lima belas tahun yang lalu, ketika saya masih tingal di Jakarta, saya kedatangan tetangga baru. Dia ingin merubah nasib di Jakarta. Niatnya sudah bulat. Buktinya dia membawa surat pindah untuk kelengkapan membuat KTP DKI. Tapi ternyata surat pindah saja tidak cukup. Harus ada lampiran surat keterangan jaminan pekerjaan. Tapi kan dia baru mau mencari pekerjaan?
Pemda DKI membuat peraturan itu untuk menekan urbanisasi. Tujuannnya agar pendatang yang ingin mengadu nasib di Jakarta tidak terlantar dan akan menjadi beban sosial Pemda DKI. Jadilah aturan itu seperti pertanyaan, ” duluan mana telur dengan ayam?” Tapi bangsa kita selalu banyak akal. Kebetulan saya punya tetangga pemilik toko material yang baik hati. Dengan rela dia meneken plus dengan stempelnya surat keterangan bahwa teman saya yang pendatang itu bekerja di toko materialnya. Beres!

Barangkali hal itulah yang menyebabkan saudara-sudara kita yang tinggal di lahan sengketa di Tanah merah,Koja, Jakarta Utara terhambat memiliki KTP, walaupun mereka sudah tingal belasan tahun lalu. Setrelah berdemo di Balai Kota, Gubenur Jokowi yang baik hati dan tidak sombong itu mendatangi mereka dengan satu janji: ” Akan diberikan KTP Gratis!”

Tapi untuk mendapatkan KTP, minimal kan harus ada keterangan dari RT dan RW? Ah, gampang lah itu.”Sebelum mengurus KTP harus dibentuk RT dan RW,” kata Jokowi. Kalau sudah Gubernur yang bilang begitu, persoalan bahwa nanti ketua RT dan RW belum mempunyai KTP DKI tidak jadi soal. Lalu bagaimana dengan status lahan sengketa itu? Baik Jokowi maupun warga satu kata,” Hanya KTP. Bukan minta kepemilikan lahan.” Hmmmm ciuuus? Mi apa. Miawoh ya?

Sayang…tunggu apa lagi,kenapa kamu masih ragu datang ke Jakarta? Masih sayang dengan KTP kampung halamanmu? Ya sudah nggak usah bikin surat pindah dulu. Nanti di Jakarta aku kenalin sama ketua RT dan RW. Masa orang lain bisa bikin KTP hanya dengan keterangan RT dan RW, kamu nggak bisa? Ajak juga teman-temanmu, mumpung Jakarta punya Gubernur yang sangat mendengarkan keluhan rakyatnya. Kalau nanti nggak bisa juga dapat KTP, kita demo di depan BalaiKota. Itu persyaratan lain mendapatkan KTP DKI.

5 Nopember 2012

Jakarta Tidak Kejam Lagi, Sayang….
Kabar  baik buat urbanisasi. Jakarta tidak kejam lagi. Gubernurnya murah hati,dermawan,dan tidak sombong. Kehabisan ongkos pulang dan proposal bodong adalah jenis penipuan yang sudah menjadi rahasia umum ibu kota. Tapi bagi Jokowi, gubernur yang tulus hati itu tidak masalah. Buktinya ketika akan menaiki mobilnya, seorang ibu mengaku kehabisan ongkos pulang dan seseorang menyodorkan proposal, tanpa pikir panjang Jokowi mengeluarkan koceknya.

MUI sudah mengeluarkan Fatwa haram bagi pengemis dan yang memberi pengemis. Pemda DKI juga sudah mengeluarkan Perda DKI 8/2007, pasal 40 tentang larangan mengemis dan memberikan sesuatu kepada pengemis. Untuk persoalan yang sama juga diatur di KUHP, pasal 504, ayat 1 dan 2. Hal itu tidak berlaku bagi Jokowi yang murah hati itu.

Karena Jokowi dan wartawan sudah seperti sosok dan bayangan, apa saja gerak Jokowi terekam dan terpublikasi. Tentu hal itu bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin minta uang pada Jokowi dengan alasan kehabisan ongkos pulang, atau membuat proposal. Jokowi tidak lagi memberi kail, tapi sudah memberi ikan.

Pengusaha armada yang hanya mau mengeruk keuntungan tanpa perduli pada keadaan kendaraannya juga kecipratan buah manis kemulian hati Jokowi. Jokowi berencana menghibahkan 1000 unit bus kepada pengelola Kopaja dan Metromini. Tanpa dicicil,”Plung! Langsung seribu..”
Gambaran mencari kehidupan yang lebih baik di Jakarta yang pada akhirnya terdampar di rumah kumuh pinggir kali, tidak akan terjadi lagi. Jokowi akan membangun rumah susun lengkap dengan tempat usaha kelas bawah, plus tempat santai keluarga.
Sayang…kalau kau ingin ke Jakarta, datanglah sekarang mumpung ada gubenur yang berhati mulia. Hantu urbanisasi yang sering kita dengar sudah tidak menakutkan lagi. Jakarta tidak kejam lagi,sayang….

3 Nopember 2012
Pak Camat Terpidana
Gaya kepimpinan Jokowi memang beda. Melihat langsung persoalan di tempat aselinya hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang berkarakter merakyat. Tentu saja patut diapresiasi. Cuma satu hal yang tidak disadari oleh Jokowi : Media masa ! Gaya pemberitaan media masa kita sekarang cenderung propokativ. Bagi Jokowi hal itu tentu saja menguntungkan, sekaligus merugikan.
Sidak Jokowi di sebuah Kecamatan diberitakan oleh media massa. Belum hadirnya Pak camat bagi media tentu merupakan berita menarik, apalagi Jokowi mengomentari belum hadirnya pak camat tanpa terlebih dulu mengecek kenapa pak camat belum hadir.

Di mana pak camat? Belakangan baru diketahui, pak camat pagi itu memenuhi undangan atasannya, pak wali kota. Tapi pemberitaan di media massa sudah terlanjur menghukum pak camat,bahkan seluruh camat. Apa pun hak jawab pak camat nampaknya sudah tidak berarti bagi media masa kita yang genit ini. Media masa lebih banyak memberitakan komentar Jokowi yang kesal dengan camat yang “malas” itu daripada hak jawab pak camat.

Semoga pengalaman ini bisa membuat Jokowi lebih arif ( baca: berhati-hati ) menyikapi media massa kita yang masih puber kebebasan. Dan kita sama berdoa semoga media kita cepat dewasa.

24 Okt. 2012

Saman dan Bang Samin

I.
Di sebuah daerah terpencil di sebuah provinsi di negara kesatuan Republik Indonesia , Saman tercenung membaca berita di Jakarta telah diberikan Kartu Jakarta Pintar. Kartu sakti yang bisa buat membayar SPP dan beli sepatu, buku dan keperluan sekolah lainnnya. Saman seperti juga beberapa teman lainnya sudah putus sekolah karena ketidak adaan biaya.

Saman terheran-heran. Dia menyangka anak-anak di Jakarta kaya kaya seperti yang sering dia saksikan di sinetron. Dia tidak menyangka, ada anak Jakarta yang tidak bisa membeli sepatu buat sekolah. Walaupun Saman miskin dia punya sepatu sekolah yang masih disimpannya.
Dia bertanya pada ayahnya, kenapa di daerahnya tidak ada kartu sakti itu? Ayahnya bilang, APBD provinsinya tidak mencukupi. Saman tidak paham, tapi dia pura-pura paham saja. Saman bertanya lagi,” Pak..saya mau sekolah lagi, bagaimana kalau kita pindah saja ke Jakarta? Masa cuma anak-anak Jakarta saja yang boleh pintar?”

Pertanyaan itu menggantung di langit biru yang menaungi bumi Indonesia yang sangat subur dan kaya ini.
II.
Bang Samin gembira menerima Kartu Jakarta Pintar. Dia membayangkan anaknya akan terus bersekolah, menjadi orang pintar yang nantinya akan dapat membantu perekonomian keluarganya. Tapi ketika dia mencairkan Kartu Pintar itu, kondisi ekonominya benar-benar sedang terpuruk pada titik nadir. Dia sudah tidak berani lagi lewat depan warung sebelah rumahnya. Hutangnya sudah menumpuk. Terpaksa dia berhutang di warung lain yang agak jauh.

Di ruang tengah rumahnya yang sangat sederhana, dia menaruh uang dua ratus lima puluh ribu rupiah di kelilingi oleh anak dan isterinya, seperti sedang membuat ritual tertentu.
“ Akan kita apakan uang ini?” tanya Bang Samin
“ Buat biaya sekolah saya,Pak.” Anaknya menjawab heran.
“ Tapi besok kita puasa. Sudah tidak ada lagi warung yang memberi hutangan.” Istrinya berkata sambil berusaha membendung air mata yang akan keluar.
“ Kalau uang ini kita gunakan buat yang lain, kartu ini akan dicabut.” Anaknya menirukan ancaman Gubernur Jokowi yang berpidato di sekolahnya.
“ Kamu bisa sekolah dengan perut lapar? “ tanya bang Samin.
Tidak ada yang menjawab. Mereka memandang uang itu dengan perasaan masing-masing.

3 Des. 2012
Jokowi, Katakan “Tidak!” Pada Jurkam
Sejak jadi Walikota Solo,saya mulai menyukai Jokowi. Jokowi menunjukan,menjadi pemimpin itu sebenarnya nggak rumit. Jangan terlalu banyak pertimbangan. Kartu Sehat misalnya. Jumlah kartu sehat yang diberikan kepada warga sebenarnya tidak sebanding dengan jumlah fasilitas kelas ekonomi Rumah Sakit di Jakarta. Tapi Jokowi tidak mau berumit ria soal angka.Bagikan saja kartunya. Toh warga miskin Jakarta nggak mungkin sakit serempak.

Cara berhitung seperti itu memang khas pemimpin yang berani. Ketika kemudian ditanyakan soal angka, dengan enteng dia menjawab,” Apa orang sakit harus menunggu dulu dibangun rumah sakit? ” Ya, pada kenyataannya setelah kasus pasien terlantar, mau tidak mau pemerintah pusat dan Pemda terpaksa harus menambah kamar rumah sakit kelas tiga. Disitulah kecerdikan Jokowi.

Tapi kalau sudah berhadapan dengan Partai, keberanian Jokowi mau tidak mau pupus juga. Bisa dimengerti. Demokrasi memang menjadikan partai sebagai majikan yang tak boleh dibantah. Kalau Jokowi pernah menantang,” Rumah sakit mana yang berani coba-coba menolak pasien? Silakan saja kalau mau coba-coba.” Tentu saja Jokowi tidak akan berani mengatakan, “Partai mana yang berani coba-coba menyita waktu saya buat kampanye? Waktu libur saya saja sudah saya wakafkan buat warga Jakarta, masa saya harus mencuri waktu buat kampanye,yang benar saja…Pilkada kan hampir tiap bulan. Kalau masih di Jawa Barat, okelah, dekat Jakarta, kalau sudah di luar pula Jawa..dengan tegas akan saya katakan, Tidak! “ Walaupun saya yakin dalam hati kecil Jokowi akan berkata seperti itu,tapi faktanya Jokowi sudah mengantongi izin Mendagri untuk menjadi Jurkam Pilkada Sumut.

Kalau saya jadi pemimpin partainya Jokowi, saya tidak akan “menyiksanya” dengan menjadikannya sebagai Jurkam. Karena Jokowi sudah menjadi milik warga Jakarta dan bahkan Indonesia, apapun partainya. Menjadikan Jokowi Jurkam sama saja dengan mengiris kepopulerannya seiris demi seiris.Sungguh sayang aset bangsa yang fenomenal ini akan menjadi politisi ketimbang sosok pemimpin masa depan yang didambakan oleh rakyat Indonesia yang sudah agak muak melihat tingkah polah komunitas politisi kita.

050313

Tetap, Cepat, Akurat
Perhitungan Jokowi menertibkan PKL di tanah Abang bisa jadi contoh keputusan yang dihitung dengan tepat, cepat, dan akurat. Di samping soal relokasi dan pendekatan yang humanis, perhitungan waktu menjelang lebaran sangatlah tepat. Setelah lebaran, seperti juga tahun sebelumnya, para PKL tentu banyak yang pulang kampung dan dimana mana memang jalanan lengang. Saat inilah PemdaDKI punya waktu yang tepat untuk “memagari” area jalan raya yang dulu dipenuhi PKL. Coba kalau dilaksakan pada waktu lainnya, walaupun berhasil tapi berlarut larut.

Illustrasi:

A3http://ilustrasiceritasurosenarobotik.wordpress.com/2013/06/20/step-sketsa-sketsa-karikaturgambar-potret-by-tubagus-arief-z/


Segepok Puisi Balya Nur


MATI KETAWA CARA JARKASIH
Jarkasih menemukan buku humor
di pinggir jalan
Jarkasih membaca sambil jalan
Sambil ketawa

Tiba-tiba motor datang menerjang
Nyawanya kontan melayang
Anak-anak mengejar
Disangkanya layang-layang
Temanku bilang,
Jarkasih korban humor
Ah, itu kan bisa-bisanya dia saja.

SEPIRING PUISI
Sejak mesin tikku tak ada lagi
Aku tak bisa lagi menulis puisi
Tentu kau bertanya.
Mengapa mesin tik tak ada lagi ?
Telah kutukar dengan sekarung nasi !
Kini aku ingin menulis puisi
Dengan lima jari
Tapi aku khawatir
Jariku akan tergadai lagi

LAGU BOGEM MENTAH
Tekotekkotek……………
Anak ayam turun sebelas
Mati sebelas tinggal induknya.
Keok ! Keok ! Kek…………
Induk ayam mati tercekik
Mati ayam tinggal malingnya
Ampun ! Ampun ! Am……
Maling ayam mati dihakimi massa
Maling mati tinggal massanya
Pakketiplakketiplung !
Masa lari dikejar hakim
Massa hilang tinggal hakimnya
Tok !
Hakim pulang
tinggal palunya.

ETIKA
Demi etika
Dan rasa hormat terhadap orang tua
Maka:
Lagu burung kakak tua
Dirubah syairnya
Menjadi seperti di bawah ini:
“Burung kakak tua
Menclok di jendela
Nenek sudah tua
Giginya utuh semua”
Dan seterusnya

MAU BIKIN SEGEPOK
Mau bikin puisi segepok
Takut kena gaplok
Cukuplah semangkok
Tambah pisang segepok
Jangan sambil merokok
Mau pulang ke Depok
Malah belok
Rumahku memang bukan di Depok
Makanya kalau nyetir jangan sambil mabok
(silakan lanjutkan…)

MENGENANG 20 TAHUN LENONG RUMPI AWARD

Oleh : Balya Nur

Tahun 1992,Lenong Rumpi menyelenggarakan Lenong Rumpi Award.Ini festival lenong remaja yang pertama dan terakhir,bukan berarti tidak ada lagi festival lenong,tapi yang dikemas mewah seperti layaknya Festival film ini,Lenong Rumpi Award satu-satunya.Sebanyak 47 peserta tampil dalam babak penyisihan di Bulungan,terpiilih 5 finalis,Sanggar Fajar Ihya’88,Fajar Ibnu Sena,Hipta,Lenong Nusantara,dan Terminal Kreatif.Rata-rata mereka bukan hanya aktif di teaer Lenong,tapi juga teater modern yang pada waktu itu memang marak di lima wilayah Jakarta.

Saya sebagai sutradara dan penulis naskah”Karim versus Karim” Sanggar Fajar Ihya’88,yang Alhamdulillah menjadi juara I,dan juga pemian terbaik pria atas nama Ita Saputra,menuliskan pengalaman saya selama proses latihan sampai menjadi juara I yang memang proses yang saya lewati tidaklah mudah.Tulisan ini pernah dimuat di mingguan Ibukota secara bersambung,kemudian kali ini saya tulis ulang,siapa tahu bermanfaat bagi generasi lenong berikut.Selamat menikmati.( Balya Nur)
Sanggar Fajar Ihya juara I. Foto: Tempo

PROSES MENUJU JUARA LENONG RUMPI AWARD
1.
Bermula dari acara berbuka puasa bersama keluarga besar Sanggar Fajar Ihya ’88. Waktu itu, saya selaku pelatih teater modern di sanggar itu menawarkan kepada wakil ketua sanggar untuk ikut lomba lenong yang diadakan di Jakarta Flash Production, yang kemudian dikenal dengan Lenong Rumpi Award. Waktu itu dia bertanya “Apakah kita akan yakin menang?”. Saya menggelengkan kepala. Memang saya tidak bisa janji yang muluk-muluk. Pertama, lomba semacam itu baru kali ini diadakan. Kedua, saya belum tahu peta kekuatan lawan. Ketiga, baru pertama kali ini saya menyutradarai lenong.

Untungnya saya dihadapkan pada para pemain lenong yang berbakat. Ditambah lagi beberapa diantara mereka pernah mengikuti program latihan teater modern.
Untuk di tingkat babak penyisihan, kami cuma latihan kurang dari satu minggu. Hal itu disebabkan bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Kami membawakan cerita “Karim Versus Karim” yang semula saya persiapkan untuk diajukan ke TPI oleh pengurus sanggar. Dalam penggarapannya, saya tidak memakai konsep macam-macam karena keterbatasan waktu laihan. Jadi kami memakai metode konvensional saja.

Keberhasilan masuk final Lenong Rumpi Award, membuka kami putar otak untuk memenangkan “perang.” Jadwal latihan disusun seketat mungkin. Disepakati latihan setiap hari. Mulai pukul 13.00 sampai dengan pukul 21.00. Dengan jadwal latihan itu, dengan perasaan berat, saya menerima kenyataan dua orang pemain kami sengaja berhenti dari pekerjaannya. Hal itu menambah tekad saya untuk berbuat semaksimal mungkin. Bekerja habis-habisan untuk meraih Award.

Tiga jam pertama, kami pergunakan untuk mendiskusikan beberapa jenis teater tradisional Betawi. Seperti, Lenong, Topeng Betawi, Topeng Si Jantuk, Jipeng, Jinong, Blantek, juga berbagai jenis kesenian Betawi lain yang kami dapatkan dari buku petunjuk tentang kesenian Betawi dari Proyek Konservasi Kesenian Tradisional Betawi, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, dan juga dari beberapa kliping surat kabar yang memang sudah lama saya dokumentasikan. Walaupun kami semua orang Betawi, tapi kami masih merasa perlu mempelajari kebiasaan kehidupan sehari-hari orang Betawi tempo Doeloe. Salah satunya yang nampak dalam pertunjukan kami adalah dengan digunakannya kipas bambu yang dibungkus dengan kain yang digunakan oleh Karim Duda.

Empat jam selebihnya, hal tersebut diatas kami coba praktekan dalam “Karim Versus Karim” yang telah saya adakan perombakan besar dari apa yang kami tampilkan dalam babak penyisihan. Setelah kami mendapatkan model yang kami anggap cocok dari berbagai jenis teater tradisional Betawi itu, kami mulai memodifikasi sesuai tuntutan naskah.

Saat latihan seperti itu memang saat yang sangat berat bagi kami. Untungnya walau dalam keterbatasan dana, pengurus sanggar mensuplai konsumsi selama latihan digedung Sasana Krida Ulujami, Jakarta Selatan.

Untuk menyemangati para pemain, saya cuma menjanjikan, jika kita nanti berhasil memenangkan “perang” berarti jalan untuk kemasa depan akan terbuka lebar. Saya umpamakan sebagai transmigran yang dengan tekun membuka lahan perkebunan.
Bagi saya pribadi, latihan menjadi 24 jam dalam sehari. Sepulang dari tempat latihan, sukar sekali rasanya untuk beristrirahat. Tekad “berani mati” para pemain selalu mengganggu pikiran saya. Sehingga mendorong saya untuk berbuat lebih banyak lagi.
Dirumah, saya mengevaluasikan hasi latihan. Untuk merasuk kedalam alam “lenong” saya sering memutar kaset Topeng Si Jantuk , dan lagu-lagu Betawi. Saya tidak lagi menikmati acara televisi. Sebelum berangkat latihan, saya membuat rencana-rencana untuk diterapkan dalam latihan.

Tiga hari menjelang malam final, saya belum menemukan nuansa untuk saya terapkan dalam adegan romantis antara kedua anak Karim. Tadinya saya ingin memasukkan lagu “ngleolo” yang biasanya dinyanyikan dalam Topeng Si Jantuk, tapi saya kesukaran mencari penyanyi wanita yang pas. Saya selalu teringat romentisme ala India. Hari-hari saya, saya lalui dengan lagu-lagu India. Akhirnya ketemu juga. Intro lagu dari salah satu lagu film “La Waris” menyentuh hati saya tepat pada saat saya sedang mengetik dialog “resmi” adegan percintaan itu. Walaupun pada akhirnya saya kecewa karena pada malam final, mikerofonnya tidak full sehingga lagunya terdengar agak samar. Tinggal satu lagi yang mengganggu pikiran saya, yaitu untuk adegan penutup. Untunglah, satu hari menjelang malam final, adegan yang merisaukan itu menginap di tempurung kepala saya saat saya sedang……mencuci sepatu!
Kembali ke suasana latihan. Saya tidak ingin para pemain menjadi lelah baik fisik maupun mental. Karena itu sangat mengganggu kreativitas mereka. Kalau saya melihat mereka sudah agak lelah, saya hentikan latihan. Saya ajak mereka bercanda. Nah dalam bercanda itulah kadang-kadang saya menemukan hal yang saya anggap lucu untuk kemudian saya terapkan dalam naskah.

Untungnya, seperti saya katakana dari awal tadi, saya bekerja dengan para pemain yang sangat berbakat. Mereka sering memberikan tawaran/inspirasi bagi saya. Saat proses latihan, walaupun otak saya bercerai-berai menjadi Sembilan (Delapan untuk pemain, dan satu untuk konsep musik) tidak menjadikan saya kehilangan akal.
Menjelang pertunjukan kami di malam final merupakan persoalan tersendiri. Terlebih kami tampil diurutan paling akhir. Dari jadwal yang tertera sekitar pukul sebelas malam, walau pada akhirnya menjadi melar satu jam. Maka sejak pagi saya minta kepada pengurus sanggar untuk tidak mengganggu para pemain untuk urusan diluar tugasnya. Para pemain harus cukup beristirahat. Dan seksi konsumen dan seksi perlengkapan bekerja ekstra keras untuk melayani para pemain.
2.
Satu persatu grup finalis mulai tampil mempertontonkan kebolehannya. Secara umum, mereka memang tidak mengecewakan sebagai finalis. Walaupun saya lihat ada beberapa kelemahan mereka. Kelemahan para finalis itulah yang saya “suntikan” kepada para pemain. Karena terus terang saja, ada beberapa pemain kami yang “terpukul” mentalnya melihat pertunjukan Fajar Ibnu Sena, Terminal Kreatif, dan Lenong Nusantara. Kepercayaan diri sebagian pemain agak sedikit goyah.
Lalu para pemain saya kumpulkan. Saya ceritakan tentang pertunjukan Fajar Ibnu Sena. Pertunjukan mereka memang Nampak menarik dan mulus. Tapi kadang-kadang tersendat-sendat. Mereka nampak sangat tegang dan terlalu berhati-hati, ditambah lagi tidak adanya bumbu humor. Untuk itu saya minta kepada para pemain untuk bermain rileks. Karena dengan rileks itu akan muncul improvisasi/spontanitas segar. Dan tentang pertunjukan Terminal Kreatif, memang mereka berhasil mengocok habis perut para penonton, tapi mereka bermain tanpa “pola”, tanpa “pakem”. Untuk itu saya minta kepada para pemain agar bermain sesuai garis yang telah ditetapkan selama latihan.

Tentang Lenong Nusantara, saya melihat sutradaranya yang sekaligus bermain nampak kali ingin lebih menonjol dari pemain lainnya sehingga nampak asyik bermain sendiri. Untuk itu saya minta kepada para pemain terutama Mian (B. Hermanto) untuk dapat mengendalikan diri.

Kepada B. Hermanto memang secara khusus saya minta agar berbesar hati. Walaupun sebenarnya dia pemain yang cukup berpengalaman, tapi dia tidak saya jagokan/calonkan untuk menjadi pemain terbaik, oleh sebab beberapa alasan vital.
Dalam babak pertama, adegan pertengkaran antara Karim Kumis (Ita Saputra) dan Karim Duda (M. Soleh Tado) saya tekankan agar keduanya hafal teks. Tidak boleh lebih tidak boleh kurang. Hal itu untuk menjaga irama pertunjukan secara keseluruhan. Untuk babak kedua dan ketiga saya perbolehkan para pemain berimprovisasi/spontanitas. Berhubung saya tahu kalau pemain lenong sudah “syur” dalam improvisasi, mereka kadang-kadang keluar dari naskah. Untuk itulah saya tugaskan B. Hermanto untuk menjaga agar pemain tetap berjalan pada relnya saat “syur” berlangsung.

Akhirnya dia memang menjalankan tugasnya dengan baik. Ada beberapa kali permainan hampir keluar dari rel, dengan cekatan dia giring masuk ke dalam rel. dan satu kenyataan, Ita Saputra yang memang malam itu bermain sangat bagus, baik hafalan teks, maupun imporovisasi, keluar sebagai actor terbaik.
Memang secara diam-diam, dialah yang saya jagokan untuk merebut actor terbaik. Ditambah dia memang sudah sejak tahun 1969 ikut main lenong keliling, dan sekarang dia menjadi pencerita “Sohibul Hikayat” di berbagai tempat dan sempat satu kali masuk dapur rekaman.

Semula saya duga Hipta akan bermain sangat bagus seperti pada babak penyisihan. Dengan demikian, jika nanti pementasan kami berada di bawah kwalitas Hipta, bukan mustahil akan dicemoohkan penonton. Maka saya minta kepada para pemain untuk siap menghadapi segala kemungkinkan. Satu-satunya pilihan adalah: Bermain habis-habisan!.

Tapi sungguh diluar dugaan saya. Entah ada apa dengan rekan-rekan saya dari Bulungan iu. Malam itu Hipta bermain sangat lamban. Improvisasinya kendor sehingga membuat peluang penonton berteriak dan sebagian meninggalkan gedung pertunjukan.
Melihat situasi seperti itu, giliran saya yang “terpukul”. Hipta mengakhiri pementasannya diiringi dengan kejengkelan penonton. Saya mulai menganalisa dan mengukur sikap penonton yang sedang jengkel itu. Jika saja pada gebrakkan pertama kami nanti tidak bisa merebut hati penonton, bukan mustahil akan hancurlah seluruh pementasan kami. Cuma ada satu pilihan: Mengikat penonton pada gebrakan pertama atau gagal sekalian!
Ketika saya sedang mempersiapkan set dekor, dan Robby Tumewu sedang menjelaskan tentang sanggar kami, para penonton berteriak tidak sabar. Dan itu cukup membuat lutut saya gemetar. Para pemain tidak tahu keadaan itu. Mereka sudah siap dibalik layar.

3.
Di depan pintu masuk Puri Agung Sahid Jaya Hotel, saya dicegat oleh wartawan sebuah harian sore Ibukota. Dia minta waktu untuk mewawancarai saya.
“Mengapa tidak nanti saja setelah pengumuman pemenang?” Tanya saya
“Saya yakin grup anda akan keluar sebagai juara I.” jawabnya
“Mengapa Anda begitu yakin?” Tanya saya lagi. Dalam hati saya bangga mendapat dukungan moral seperti itu.
“Anda belum baca Koran saya sore ini?” tanyanya. Saya menggelengkan kepala, tidak mengerti.

Belakangan setelah selesai wawancara, dia menghadiahkan koran yang dia maksud tadi. Dihalaman tengah, saya membaca judul yang membuat hati saya agak sedikit lega. Cerita “Karim Versus Karim Berpeluang Menjadi Juara”
Saya berikan koran itu kepada teman-teman saya yang telah menyelesaikan santap malamnya. Saya sendiri –oleh sebab wawancara itu – tidak sempat mencicipi lezatnya santap malam ala Sahid Jaya Hotel. Tak apalah. Berita dikoran sore itu cukup membuat perut saya kenyang.

Tapi walaupun begitu, tetap saja pengumuman para pemenang Lenong Rumpi Award yang sangat megah bagai pengumuman piala oscar itu membuat jantung saya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Saya menghayal, akan sangat bangga sekali jika apa yang ditulis koran sore itu menjadi kenyataan.
Dan…….Alhamdulillah! perjuangan yang sangat berat selama dua minggu malam itu membuahkan hasil yang setimpal. Bayangkan saja, kami menjadi juara I dari lomba yang baru pertama kali ini diselenggarakan. Satu persatu teman saya menyalami dan memeluk saya. Juga salam dari rekan-rekan sesama finalis.
Koordinator/Wakil Ketua Sanggar Fajar Ihya ’88 yang memang sejak awal ingin sekali naik keatas pentas menerima piala lambang permasi lenong itu dengan langkah enteng naik pentas diiringi dengan lampu blitz camera wartawan.
Dalam perjalanan pulang, saya membayangkan tentu Ketua Sanggar Fajar Ihya ’88 yang sedang kurang sehat akan sedikit dapat terobati dengan “hadiah” piala ini. Senyum dan tawa di wajah teman-teman saya tidak pernah surut. Memang hal itu sangat wajar mengingat perjuangan kami yang sangat berat selama dua minggu.